DOBERMANN,
PAHLAWAN PERANG DUNIA II?

Anjing berperan dalam menentukan sejarah dunia? Mungkin terlalu bombastis kedengarannya. Tapi tahukah anda hewan berkaki empat yang cerdik dan setia ini, juga turut menentukan jalannya pertempuran di Asia Pasifik dalam kancah Perang Dunia ke 2? Kisah kepahlawanan mereka seringkali luput dari perhatian kita.
Pergolakan yang terjadi di Nusantara tidak lepas dari situasi dunia pada era 1939-1945. Peperangan besar antara Amerika Serikat dan para sekutu melawan pemerintahan fasis Jerman, Jepang dan aliansinya, mempengaruhi hampir seluruh kawasan di bulatan dunia. Eropa, Asia, Afrika, Pasifik, memanas seakan-akan mencapai titik didih pertanda akan lahirnya satu era baru.
Kisah-kisah heroik yang terjadi di medan peperangan akbar tersebut ternyata tidak hanya melibatkan manusia. Sahabat terbaik manusia yang telah terbukti kegunaan dan manfaatnya yaitu satwa anjing, ternyata memiliki peran besar dalam kancah pertempuran yang mengubah wajah dan nasib bangsa-bangsa di dunia, termasuk di dalamnya tanah air tercinta, Indonesia.
Dalam pertempuran hebat memperebutkan pulau Guam yang dikuasai Jepang, 25 anjing perang milik Marinir, kebanyakan jenis Dobermann gugur di medan laga. Di Pulau Guam sekarang terdapat Monumen Peringatan untuk mengenang jasa-jasa kepahlawanan mereka. Monumen itu bernama Wardog Memorial, berbentuk segi empat dengan patung anjing Dobermann hitam legam diatasnya. Tidak lupa nama-nama anjing yang gugur tertera disana.
Kisah sejarah keikut sertaan anjing dalam kancah pertempuran itu bermula jauh sebelum pecahnya Perang Dunia II.
Negara Jerman bahkan sudah sejak Perang Dunia I (1914-1918) menggunakan anjing untuk kepentingan militer. Pengalaman tersebut menyebabkan pemerintah Jerman mendirikan organisasi yang bertujuan untuk membiakkan dan melatih anjing untuk keperluan Militer dan Polisi.
Dalam kurun waktu tersebut hingga Perang Dunia II, pihak Amerika memperkirakan Jerman sudah melatih sekitar 200.000 anjing. Jerman bahkan menyediakan 25.000 anjing militer terlatih untuk sekutu mereka, Jepang, yang kemudian menggunakannya dalam perang melawan China.
Rusia juga ikut melatih dan menggunakan anjing untuk militernya. Anjing jenis Samoyed putih digunakan untuk menarik kereta yang ditumpangi penembak jitu dekat ke garis depan musuh.
Dalam satu sektor medan peperangan, sebuah tim anjing kereta luncur membawa 1.239 orang yang terluka dan mengangkut 327 ton amunisi selama periode 5 minggu. Tim anjing sudah digunakan untuk mengangkut senjata, orang dan perbekalan. Seorang koresponden Rusia berkata,”Para Anjing telah menyelamatkan ribuan dari ribuan nyawa di front Rusia.”
Pihak Amerika sudah sejak lama dikenal memiliki pencinta dan pemilik anjing, tapi sebelum Perang Dunia II belum ada pelatihan secara formal untuk anjing bagi kepentingan militer. Hanya ada sedikit saja anjing yang digunakan untuk kepentingan kepolisian. Bahkan sebenarnya malah tidak ada pelatihan tersebut sama sekali. Di Amerika, anjing sekedar bekerja sebagai pembantu para ’cowboys’ dalam menggembalakan ternak mereka.
Faktanya, bukan hanya anjing dalam kemiliteran yang tidak siap, seluruh segi kehidupan masyarakat Amerika tidak siap menghadapi Perang Dunia II yang secara tiba-tiba menerpa negara mereka akibat serbuan Jepang terhadap Pangkalan AL Pearl Harbour, pada Hari Minggu, 7 Desember 1941. Sungguh suatu keajaiban (kalau boleh dibilang mujizat) yang menyebabkan suatu negara yang sama sekali tidak siap, bisa meraih kemenangan dalam peperangan yang berlangsung selama empat tahun.
Kesatuan Marinir AL Amerika Serikat tertarik pada penggunaan anjing dalam peperangan pada awal tahun 1935. Mereka memiliki pengalaman menghadapi musuh yang menggunakan anjing di Haiti, dan dalam beberapa peperangan di kawasan negara-negara Amerika Tengah.
Para gerilyawan menggunakan anjing-anjing penjaga untuk melindungi kamp-kamp mereka. Para anjing ini akan segera menyalak bila mendapati para marinir mengendap-endap memasuki wilayah mereka.
Marinir AS mulai mempelajari betapa berharganya anjing untuk penjagaan dan pengintaian. Seorang Marinir melatih seekor anjing untuk menjadi pengintai di depan regu patroli, gunanya untuk memperingatkan mereka dari bahaya penyergapan. Korps Marinir-lah yang meyakinkan para pemimpin mereka, bahwa mereka membutuhkan anjing dalam tugas-tugasnya.
Setelah peristiwa penyerangan militer Jepang terhadap Pangkalan AL AS di Pearl Harbour, pada mulanya warga AS masih menentang keterlibatan negara mereka dalam perang yang terjadi di Eropa dan Asia. Marinir berpikir mereka hanya menghadapi Jepang di kawasan Pasifik.
Sejak Jepang menguasai pulau-pulau dan atoll (pulau karang) di tengah, selatan dan barat Pasifik, Marinir tahu mereka akan bertempur dibawah iklim tropis dimana tumbuh-tumbuhan seperti hutan seakan-akan menyelubungi pulau-pulau itu.
Dalam kondisi seperti itu, anjing lebih ideal dipergunakan sebagai penjaga dan kurir. Karena itu tidak heran kalau Korps Marinir-lah yang pertama kalinya memiliki unit anjing dalam jumlah besar dalam sejarah negara Amerika dan dalam aksinya melawan musuh.

Sejarah keberadaan Doberman dalam Korps Marinir AS :
Biakan Dobermann pertama kali terdaftar di American Kennel Club pada tahun 1908. Sampai tahun 1922 cuma 100 ekor yang terdaftar tiap tahunnya. Tapi pada tahun 1941 sekitar 1.637 Dobermann terdaftar dan menempatkannya ke urutan 15 diantara anjing-anjing yang populer dikalangan pembiak. Marinir memutuskan untuk memilih Dobermann Pinscher sebagai ’Anjing Perang’ resmi mereka.
The Dobermann Pinscher Club of America (DPCA) didekati untuk mendapatkan Dobermann untuk fasilitas pelatihan Anjing Perang Korps Marinir yang baru terbentuk di Camp LeJeune, New River, North Carolina.
Dalam proses rekruitmennya para pemilik Dobermann di Amerika diminta untuk memberikan anjingnya sebagai ’sukarelawan’. Mereka diberitahu apabila anjingnya tidak memenuhi standar yang ditentukan atau mengakhiri masa tugasnya, maka akan dikembalikan kepada pemiliknya semula.
Namun faktanya, pemilik harus menandatangani kepindahan kepemilikan anjing kepada Korps Marinir. Banyak handler (pelatih/prajurit yang menangani seekor anjing) dari Marinir yang meminta Dobermann yang mereka tangani untuk dibawa pulang ke rumah.
Kesatuan anjing Marinir diberi nama ”Devildogs” (Anjing Setan,Red). 90%nya berjenis Dobermann Pinschers, kebanyakan direkrut melalui pelayanan dari DPCA. Ada juga beberapa Herder (German Shepherd) yang diperoleh dari Angkatan Darat. Para Anjing Gembala Jerman ini diperoleh dari pemiliknya langsung.
Cecil MacCoy, adalah Direktur dari Public Relations, New York Stock Exchange, dan juga adalah president dari the Doberman Pinscher Club, New York. Dialah ketua perekrutan Dobermann di kota itu. Dia termasuk pada grup-grup awal yang dikirim ke medan perang bersama Korp Dobermann Marinir .
Pada 26 Januari1943, enam ekor anjing untuk pertama kalinya dilantik oleh Korps Marinir di pelataran tangga Gedung US.Subtreasury di New York. Peristiwa tersebut mendapat pemberitaan luas di media massa. Satu dari enam anjing yang dilantik itu tewas dalam pertempuran.
Setibanya di Kamp LeJeune, para K9 rekrutan baru ditato pada bagian dalam telinga sebelah kanan. Nama, tanggal lahir, tanggal perekrutan dan jumlah mereka ditulis dalam buku catatan.
Dicatat pula rekor mereka dalam menerima pelatihan seperti, kepatuhan, pengintaian, kurir, dan tugas-tugas khusus lainnya. Para Dobermann harus melalui pemeriksaan dan diuji mengenai kemudahan dikendalikan, dikoreksi, sifat pemalu dan agresifitasnya. Beratnya minimal 50 pon dan memiliki tinggi setidaknya 12 inci pada withers (bagian tertinggi dari punggung). Anjing yang gagal melewati tes ini akan dikirim pulang.
Dobermann yang lulus tes akan dilatih sebagai prajurit. Mereka ditempatkan berdasarkan masa tugas. Setelah tiga bulan, para anjing naik kelas sebagai Private First Class (Prajurit Satu), satu tahun kemudian menjadi Corporal (Kopral).
Urutan berikutnya : dua tahun Sergeant (Sersan Dua), tiga tahun Platoon Sergeant (Sersan Satu), Empat tahun Gunner Sergeant (Sersan Mayor), dan setelah lima tahun mereka menjadi Master Gunner Sergeant (Sersan Kepala). Dobermann bisa-bisa pada akhirnya berpangkat lebih tinggi dari para handler-nya.
Selesai pendidikan dasar, para anjing dipilah-pilah untuk pelatihan khusus (spesialisasi). Anjing kurir dilatih untuk membawa pesan, amunisi atau suplai obat-obatan dari satu handler ke handler lain.
Mereka diarahkan untuk menghindari tembakan bedil dan senapan mesin, serta ledakan dinamit dan TNT dalam simulasi pelatihan yang dibentuk mendekati kondisi yang mirip peperangan sesungguhnya.
Anjing pengintai dilatih untuk memperingatkan tentara dari kehadiran orang asing. Anjing biasanya mengingatkan adanya kehadiran orang asing dengan menyalak. Kebanyakan orang beranggapan bahwa anjing akan menggonggong semau mereka. Tapi anggapan itu keliru, para ”Devildogs” Marinir bisa dilatih untuk tidak menyalak.
Anjing penjaga mengingatkan tentara dari kedatangan musuh bukan dengan cara menggonggong tapi dengan memberikan sinyal dalam bentuk lain. Dobermann dilatih untuk mendeteksi kehadiran musuh dan bila perlu menyerang. Tapi latihan penyerangan tidak terlalu ditekankan.
Faktanya adalah, tugas mendeteksi kehadiran musuh adalah tugas anjing yang paling penting. Para Marinir tidak mau menempatkan anjingnya dalam risiko tinggi dengan melibatkan mereka dalam serangan. Mereka berpendapat telah memiliki senjata yang cukup untuk melawan Jepang dan tidak memerlukan Dobermann untuk melakukan hal tersebut.
PERTEMPURAN!

Pada tahun 1942, Militer Jepang menaklukkan Hong Kong, Singapura, Thailand dan Burma di bagian barat Pasifik; Pilipina, Kep.Mariana dan Kep.Solomon di bagian barat tengah Pasifik. Sampai pada akhirnya dalam pertempuran Midway (The Battle of Midway) Jepang mengalami kekalahan. Di Midway, Jepang kehilangan empat kapal induk dan ratusan pilot terbaik mereka.
Mengetahui bahwa negara terakhir di Pasifik yang kemungkinan dapat menghentikan Jepang adalah Australia, maka kekuatan militer Jepang diarahkan menuju Benua Kanguru itu dengan mencaplok Kep. Guinea terlebih dahulu.
Akhir 1942, Militer Amerika bertempur melawan Jepang di Guadalcanal pada Kep. Solomon yang terletak di timur laut Australia. Setelah pertempuran yang panjang dan berdarah, Amerika memenangkan pertempuran di Guadalcanal.
Pulau terbesar di Kep. Solomon adalah Bougainville. Marinir mendarat di sana tahun 1943. Setelah tempat pendaratan dibom dan hancur berantakan, Peleton anjing segera dikirim hanya satu jam setelah Marinir pertama menginjak bibir pantai, dibawah hujan mortir dan berondongan senapan.

“The Devildogs” yang didatangkan telah menimbulkan bermacam reaksi dari prajurit tempur Marinir. Kebanyakan dari prajurit tempur masih meragukan kemampuan anjing tersebut. Ada satu hal yang dengan cepat mengubah cara pandang Marinir terhadap anjing menjadi lebih positif. Dalam pendaratan dan pertempuran di kepulauan, seringkali Marinir menghentikan langkahnya di pantai. Hal itu sebagai antisipasi terhadap Jepang yang biasanya menggunakan taktik dengan menerobos posisi pantai pada malam hari, untuk membunuh para marinir.
Untuk mencegah hal itu Marinir selalu siaga pada malam hari. Dalam sebuah pertempuran malam, sebuah batalyon menembakkan 3800 peluru, membunuh kerbau dan melukai satu orang dari pihak mereka sendiri. Tidak ada musuh di area tersebut.
Pada malam berikutnya ”The Devildogs” dipanggil untuk bertugas. Anjing-anjing jenis Dobermann dapat membaui, mendengar serta mendeteksi kehadiran manusia beberapa ratus yard jauhnya. Para handler Dobermann selalu membantu mengawasi penggalian lubang perlindungan, Marinir yang lain meminta handler dan anjingnya berada di sekitar mereka. Tidak ada unit yang dalam perlindungan Dobermann yang pernah disergap atau mengalami kasus diinfiltrasi oleh Jepang!
Selama Perang Dunia II, tujuh peleton Anjing Perang di latih di Camp LeJeune, North Carolina. Semua peleton melayani di Pasifik dalam perang menghadapi Jepang. Peleton Anjing Perang pertama datang bersama Batalyon Raider ke 2 di Bougainville.
Dari peleton ini dan unit lain, Brigade Marinir yang pertama terbentuk dan mengivasi Guam bersama-samaDivisi Marinir ke 3 dan Divisi AD ke 77. Peleton Anjing Perang pertama beraksi di Bougainville, Guam, and Okinawa. Peleton ke 2 dan 3 beraksi di Guadalcanal, Kwajalein, Enewetak, and Guam.
Sepanjang pertempuran, para anjing menuntun infantri pada daerah yang menguntungkan, menjelajahi gua, menggali, dan membentengi posisi intai. Mereka juga mendapat tugas berjaga dengan Polisi Militer di persimpangan jalan siang dan malam. Mereka berjaga di lubang perlindungan di pos terdepan saat malam hari.

K9 dan para handlernya mendapat penghargaan resmi dengan memimpin 350 tugas patroli selama fase pertempuran. Tercatat 300 musuh tewas ditangan para handlers. Hanya satu handler terbunuh saat patroli.
14 ekor anjing terbunuh dalam aksinya saat pertempuran di Guam. 10 ekor tewas karena keletihan, penyakit malaria tropis, serangan jantung, dan anemia akibat cacing tambang. Ada 24 ekor anjing yang dimakamkan di Pemakaman Anjing Perang di Guam.
Dimanapun ”Marine Devildogs” pergi, mereka menarik keingintahuan dari orang-orang yang mendengar tentang biakan yang sangat kuat dan licin berkilat tapi belum pernah mereka lihat. Di Guam, masyarakat yang masih hidup melewati penjajahan Jepang ingat tentang Anjing Perang Marinir sebagai ”The Dobermanns” atau ”Ah, The Dobermanns” karena mereka mengingat betapa berharganya peranan para Anjing Dobermann tersebut pada masa-masa pembebasan pulau tempat tinggal mereka.
Pada Bulan Agustus 1945, Marinir menutup Sekolah Pelatihan Anjing Perang dan membubarkan Peleton Anjing Perang. Beberapa Dobermann dipulangkan ke pemilik aslinya, beberapa di bawa pulang Marinir handler-nya, dan ada sejumlah yang dibinasakan karena tidak ada yang menginginkannya.
The Devildogs menjadi sejarah dan kebanyakan hanya menjadi bagian dari sejarah yang terlupakan. Barulah pada tahun 1994, Captain William W. Putney dari USMC berkampanye agar Dobermann yang telah dikuburkan di Guam, dipindahkan ke National War Cemetery, di Guam. Berkat dukungan The United Dobermann Club akhirnya pihak AL AS membangun tempat pemakaman khusus untuk mengenang jasa-jasa 25 Doberman dalam kancah perang pasifik. Ke-25 Dobermann ini mewakili keberadaan 800 anjing lainnya yang melayani negara mereka selama Perang Dunia II.

Kemenangan Amerika Serikat atas Jepang di Asia Pasifik berimbas pada kemerdekaan Indonesia, yang mengambil keuntungan dari momen tersebut. Apabila kita renungkan lebih dalam tentang peranan Dobermann yang sangat signifikan dalam perang Pasifik, berarti secara tidak langsung bisa dikatakan para Dobermann pun turut berjuang bagi kemerdekaan tanah air kita tercinta. Maka dalam Bulan Kemerdekaan ini tidaklah berlebihan rasanya bila kita mengangkat topi, ikut menghargai jasa-jasa pahlawan berkaki empat yang berjuang tanpa pamrih tersebut. (Mypethouse.net/dari berbagai sumber)
